Perilaku Anak Dan Tindakan Orang Tua Yang Benar –¬†Perilaku anak-anak kecil ada berbagai macam, dan berbagai sifat, dan berbagai watak, ada anak yang mempunyai perilaku buruk, ada yang mempunyai perilaku bagus. Orang tua memiliki peran penting dalam pembentukan sifat, watak dan perilaku anak-anak, perilaku anak biasanya mencontohi perilaku orang tuanya, jika orang tuanya kasar maka anaknya juga akan menjadi seseorang yang kasar dan begitu juga sebaliknya. Kali ini kita akan membahas cara menyikapi berbagai sikap dan masalah terhadap anak secara baik.

Baca Juga :


Berikut perilaku anak dan tindakan orang tua yang benar :

1. Bagaimana cara mengatasi anak yang sering berteriak dan membentak ?
Perlu kita ketahui bahwa anak tidak mungkin bisa berteriak atau suka membentak, kecuali ada yang dicontohnya. Bisa Jadi, Mereka pernah melihat salah satu orangtuanya atau anggota keluarga lain berteriak. Walaupun ada juga yang inborn talentnya suka berteriak dan membentak.

Penyelesaiannya, kalau anak meminta sesuatu dengan bersuara keras atau tinggi, jangan penuhi permintaannya. Minta ia mengulagi permintaannya dengan sopan dan lembut.

Misalkan anak meminta sesuatu dengan berteriak, dekati ia dan tatap mataya dan katakan dengan baik, “ayah/ibu tidak akan mengabulkan permintaanmu sama sekali jika kamu meminta dengan cara seperti itu, mintalah dengan cara yang sopan, maka ayah/ibu akan mempertimbangkannya.”, Contohkan dengan baik bagaimana anak seharusnya berucap.

Mintalah anak mengulang lagi dengan nada suara rendah. Biasanya anak akan malu-malu untuk mengulang dan mungkin berkeras pada keinginannya. Tidak Apa-apa. Ayah tunggu saja, kalau ia masih tidak mau mengulang dengan nada rendah dan masih menggunakan nada tinggi, biarkan dulu, tetapi jika anak makin sering menggunakan nada tinggi, disini orang tua perlu TEGAS. Jika tidakk tegas seorang anak akan makin sering melanggar dan meremehkan. Jika ayah tidak ingin diremehkan oleh anak, katakan TIDAK!!!.

Dengan menerapkan cara ini secara terus menerus, lama-lama anak akan menjaga habit untuk tidak berteriak. Tentunya dengan sang orangtua juga tidak mecontohkan berteriak pada anak.

 

2. Bagaimana Memperlakukan Anak Yang Suka Membantah?
Pertama, Orang tua seharusnya bersyukur pada tuhan karena dianugerahi anak calon pemimpin untuk kalian asuh. Dengan bersyukur, kita bisa kuat dan punya kesabaran yang lebih tinggi untuk mendidik calon pemimpin kecil kita itu.

Dibalik sifatnya yang tidak mau diatur, anak berpotensi menjadi seorang yang dapat mengatur alias seorang pemimpin. Kedua, anak yang membangkan biasanya karena adanya perbedaan pendapat antara anak dan orangtua. Orangtua yang memiliki kecenderung otoriter berhadapan dengan anak yang bertipe pemimpin yang tidak mau begitu saja menerima pendapat atau mau dipaksa akan sering terjadi perdebatan yang “seolah-olah” hanya disebabkan oleh anak.

Padahal sesungguhnya dengan adanya anak yang membantah, para orangtua dapat mengevaluasi kebijakan dan pola komunikasi yang dibangun; apakah sudah sesuai dengan masih-masing tipe anak sehingga proses perdebatan antara orangtua-anak dapat dikurangi dan mendapat jalan keluar terbaik.

Ajari anak pembangkan menjadi seorang yang kooperatif bukan menjadi seorang penurut, anak yang kooperatif mau melakukan apa saja yang diminta orang tua karena tau alasan logisnya sedangkan anak yang penurut melakukan sesuatu tanpa tahu alasannya, ia menurut saja tanpa berpikir dan menggunakan logikanya

Dan untuk para orangtua, biasakan menawarkan opsi-opsi padanya. Misalnya, “Kamu mau mandi sekarang atau 5 menit lagi?, oke kita sepakat 10 menit lagi, jika sampai waktunya kamu masih belum mandi juga, besok kamu mau uang jajan dikurangi atau tidak boleh bermain sepeda disore hari?”. Pastikan para orangtua melaksanakan kesepakatan dengan tegas, tetapi jika sang anak melaksanakan janjinya, biasakan memberi reward, dan jika ia melanggarnya, berikan hukuman agar ia tidak melanggar terus.

 

3. Bagaimana Supaya Anak Tidak Berbohong?
Dibandingkan dengan kejahatan lain, kebohongan sebenarnya berada di level teratas. Berbohong adalah awal dari segala kerusakan dan hanya membawa kita pada keburukan. Oleh karena itu, jika anak berbohong, orangtua perlu mencari solusinya karena dampaknya berat sekali. Tekankan pada anak, bahwa berbohong adalah kebiasaan yang paling buruk. Selain itu, orangtua perlu menegosiasikan ulang segala sesuatu yang membuat anak berbohong. Contohnya, drpd anak berbohong karena makan atau susunya tidak habis, sebaiknya kurangi porsinya.

Anak berbohong juga kadang karena mencontoh orang-orang terdekatnya, siapapun dan sekecil apa pun kebohongan itu. Misal ada orang datang meminta sumbangan, dan orang tuanya meminta anaknya berkata pada orang yang meminta sumbangan tersebut, “Dek…, bilang mama gak ada dirumah ya…” Adakah yang melakukan itu?

Faktor kedua, sering kali orangtua ingin jawaban yang bagus dari anaknya. Mereka tidak siap dengan jawaban yang jelek.

Faktor ketiga, Kejujuran anak dibalas dengan emosi. SAat anak berkata jujur dan orangtua membalasnya dengan emosi maka saat itu juga anak akan berpikir, kalau ia jujur malah akan mengundang emosi orangtuanya. jadi, daripada melihat orangtuanya marah, mereka berbohong.

Lalu apa solusinya?, kalau anak berbohong karena ada yang dicontoh, maka solusinya adalah mengubah sikap yang dicontoh. Jika anak berbohong karena faktor kedua, maka solusinya adalah orangtua harus siap dengan jawaban anak, apa pun jawabannya. Jika dilain pihak anak berbohong karena takut orang tuanya marah, solusinya hampir sama dengan faktor kedua.

Oleh karena itu, para orangtua, jika anak berkata jujur, jangan memarahi, jika para orangtua menganggap itu salah, maka harus diarahkan, jangan dimarahi apalagi main tangan. Dan jika anak berbohong pada hal yang sama, maka orangtua harus memberi konsekuensi. Konsistenlah agar anak paham bahwa kebohongan yang dilakukannya adalah hal buruk dan tidak pantas dilakukan.

 

4. Bagaimana Cara Mengajarkan Anak Untuk Menghargai dan Merawat Barang-barang miliknya?
Anak seperti ini jenisnya sanguinis. Ia suka berbicara, senang bergaul, dan biasanya multhinking; badannya disini, tetapi pikirannya dimana-mana, makanya sering kehilangan barang.

Cara paling sederhana untuk mengajarkan anak menghargai barang-barang milikya adalah dengan tidak mengganti barang yang hilang. Kalaupun mau diganti, ada harganya. Bisa dengan meminta anak mengejakan sesuatu sampai seharga buku yang hilang tersebut. Sama saja seperti mengajarkan anak untuk berhemat.

Saat segala sesuatu dilakukan dengna usaha maka tidak mudah baginya untuk menyepelekan lagi keberadaan barang-barang miliknya. Namun, kalau masih terus dilakukan, berikan atau naikkan konsekuensinya, misalkan dengan menambah pekerjaannya.

 

5. Bagaimana Mengajarkan Anak Agar Sopan dan Hormat pada orangtua?
Mengajari sopan santu pada anak tentu tidak bisa sekaligus kita lakukan. orangtua perlu mengajarinya satu per satu agar anak tidak bingung. Misalnya, saat anak memegang kepala orangtua. Mungkin maksud anak kita mengelus sebagai tanda sayang, tetapi karena tidak memahami, mereka menganggapnya sesuatu yang biasa. Untuk itu orangtua perlu menjelaskan kalau apa yang dilakukannya tidak sopan. Tentunya, Ketika Pertama kali ia melakukan hal tersebut, orangtua perlu menjelaskannya dengan lembut, bukan dengan memarahi. Jika dikesempatan lain anak masih mengulanginya, ingatkan kembali sampai ia tidak mengulanginya. jadi sosialisasikan terus sampai anak paham.

Kalau satu ajaran itu sudah bisa ia terapkan, barulah orangtua dapat melanjutkan ke hal lain. Misalnya, mengajarkan anak untuk tidak mengangkat kaki ke meja, mengucapkan “Permisi” ketika melewati orang lain dan sebagainya. Prinsipnya, ajarkan satu persatu, jangan sekaligus agar anak tidak bingung.

Pada dasarnya anak belum memahami mana perilaku yang sopan dan tidak. Kalau mereka melakukan tindakan yang kurang sopan, berkacalah pada diri kita sendiri. Jadikan anak sebagai guru buat kita. Mungkin saja kita pernah melakukan hal tersebut tanpa kita sadari

 

6. Cara Mengatasi Anak Yang Pemalu
Memang ada anak yang bawaan lahirnya pemalu. Secara tipikal, anak ini memiliki kecenderungan kuat dibidang art and science dan mereka lebih suka menyendiri. Hal ini mungkin selaras dengan tujuan mereka di ciptakan, baik sebagai seorang seniman maupun saintis yang lebih suka bekerja sendiri. Anak dengan tipologi ini terlahir sebagai anak yang peka atau sensitif dan cenderung menutup diri.

Jadi, kalau punya anak yang memang memiliki bahan dasar pemalu, baik laku-laki maupun perempuan, tugas orangtua adalah memotivasi dengan menggunakan kalimat-kalimat yang membuatnya lebih percaya diri. DAripada mencela dan membandingkan dengan anak lainnya, sebaiknya pujilah apa yang sudah berani ia lakukan meskipun masih jauh dari harapan.

Anda dapat mengatakan, “Mama bangga lho tadi kamu sudah berani tampil..” Perhatikanlah, jika orangtua rajin memuji, setahap demi setahap ia akan mengalami peningkatan rasa percaya diri. Jadi jangan lupa, hargaiah sekecil apa pun kemajuan yang berhasil dicapai oleh anak. Sebab, kalau anak yang bawaan lahirnya sudah emalu, lalu diberikan kalimat-kalimat yang menjatuhkan seperti, “masa gitu aja gak bisa,” akan membuat nyalinya semakin menciut dan menrak diri dari pergaulan atau aktivitas yang menuntunya aktif.

Masalah penyebutan juga mempengaruhi kondisi anak, lho. sebaiknya orangtua tidak menyebut anaknya pemalu, tetapi ganti dengan “anak saya bertipe analisi atau perasa”. Kalau kita sering menyeutnya sebagai anak pemalu, ia akan mendapat aklamasi atau pembenaran bahwa saya memang pemalu. Namun, Bila orangtua menerapkan cara yang benar, meskipun anak memang bertipe pemalu, secara perlahan ia akan menjadi jauh lebih berani

 

7. Jika Tanpa Sengaja Anak Menonton Sesuatu Yang Tidak Senonoh di TV Bagaimana Menjelaskan Bahwa Itu Buruk?
Kalau anak melihat di tayangan TV seorang laki-laki mencium bibir pacarnya, orangtua bisa menjelaskan, “Itu nak, laki-lakinya kurang baik, jika melakukan itu ada bahayanya, mereka bisa terkena penyakit”.

Lalu kita jelaskan proses ilmiahnya. Misalnya, Kalau berciuman melibatkan apa saja, dimulut ada apa saja, ternyata di dalam mulut selain ada gigi ada juga kuman dan sebagainya. Jadi saat melihat adegan dewasa, otak kirinya lebih dulu bekerja. Apakah otak kanan tidak boleh bereaksi? boleh saja, asal waktunya tepat.

Kalau orang berpikir dengan kirinya terus. Repot Juga kalau sudah menikah, karena yang dibahas nanti selalu dari sisi sains.

Bagaimana Jika Orang Tua Panik Kemudian Menutup Manta Anaknya?
Wah, semakin ditutup matanya, biasanya anak akan semakin penasaran ingin tahu. Jadi mumpung orangtuanya yang mendampigi, jelaskan saja apa yang sedang terjadi. Tentu anda tidak mau, kan anak malah bertanya pada temanya dan dipengaruhi hal-hal yang tidak baik.

Jika Anak Ketahuan Membaca Buku, Majalah, atau menonton film porno, bagaimana tindakan yang perlu diambil orang tua?
Redam emosi anda dan tanya dengan baik darimana dia mendapatkan majalah atau film porno tersebut, sebab jika anda memarahinya, itu bukan akan membuatnyua berhenti, tetapi malah akan membuatnya berhati hati menyembunyikannya, apalagi yang melihat dvd itu bukan hanya kakaknya, tetapi adik juga, mereka bisa kompak menyembunyikannya. WAhh…, kan lebih bahaya.

Oleh sebab itu, katakan saja, “Wah, anak mama sudah dewasa ya?”, karena dalam hal ini anak perlu bimbingan orang tua, keingin tahuan anak tentang seks tumbuh berdasarkan perkembangan hormonal anak atau sesuai dengan baliknya, biasanya wanita saat ia berusia 12 tahun dan pria berusia 14 tahun.

Jika sudah dilarang dan anak masih melakukannya, perlu ditelusuri tentang teman temannya disekolah, atau lingkungan tempat tinggal anda, karena biasanya lingkungan dapat mempengaruhi perkembangan anak anak.

 

Sumber : Buku Ayah Edy Menjawab

BAGIKAN